IKHLAS
Aku mulai menghitung jari, menjumlah kebahagiaan yang berkurang sejak kamu berbagi kebahagiaan tempo hari. Pasalnya saat itu aku hanya bisa berdiri memandangmu dari sini sambil tersenyum kecut pada bayangan sendiri. Kamu tahu? Aku kehabisan kata untuk menjabarkan sebuah rasa. Sakit, kecewa, marah dan gelisah berbaur layaknya es campur yang beberapa waktu lalu jadi teman ngobrol kita. Kamu tersenyum kecil, memujiku cantik lalu mengatai centil. Aku tertawa, karena semua hal yang kamu katakan tentangku tidak pernah tidak membuat bahagia. Namun, seiring berjalannya waktu kita sama-sama sibuk sampai tidak sempat bertemu. Pesan teks pun semakin singkat dari minggu ke minggu. Kemudian kita kembali membisu, memberi celah pada orang baru. Aku yang tidak begitu pandai akhirnya tertinggal jauh, tidak bisa memungut hatimu yang terlanjur jatuh. Aku sudah berusaha membujuk Tuhan agar berkenan menuntunmu pulang, tapi sepertinya dia yang kini menggenggam tanganmu lebih disayang. Buktinya d...