IKHLAS
Aku mulai menghitung jari, menjumlah kebahagiaan yang berkurang sejak kamu berbagi kebahagiaan tempo hari. Pasalnya saat itu aku hanya bisa berdiri memandangmu dari sini sambil tersenyum kecut pada bayangan sendiri.
Kamu tahu? Aku kehabisan kata untuk menjabarkan sebuah rasa. Sakit, kecewa, marah dan gelisah berbaur layaknya es campur yang beberapa waktu lalu jadi teman ngobrol kita.
Kamu tersenyum kecil, memujiku cantik lalu mengatai centil. Aku tertawa, karena semua hal yang kamu katakan tentangku tidak pernah tidak membuat bahagia.
Namun, seiring berjalannya waktu kita sama-sama sibuk sampai tidak sempat bertemu. Pesan teks pun semakin singkat dari minggu ke minggu. Kemudian kita kembali membisu, memberi celah pada orang baru.
Aku yang tidak begitu pandai akhirnya tertinggal jauh, tidak bisa memungut hatimu yang terlanjur jatuh.
Aku sudah berusaha membujuk Tuhan agar berkenan menuntunmu pulang, tapi sepertinya dia yang kini menggenggam tanganmu lebih disayang. Buktinya doanya dikabulkan, sementara punyaku masih saja dalam antrian.
Ah, aku memang terlalu drama. Padahal bisa jadi ada yang salah dengan caraku meminta, atau malah Tuhan sudah punya rencana yang luar biasa. Yang akan membuatku ribuan kali berterimakasih nantinya.
Jujur, berat sekali untuk melepasmu apalagi menghapus kenangan dulu, tapi apa yang bisa kulakukan selain itu? Nyatanya Semesta tak merestui kita, atau lebih tepatnya aku tak berhak menganggapmu ada.
Maaf atas segala kemasabodohan yang mungkin membuatmu kehilangan rasa nyaman hingga memilih berganti peran.
#oktober21
_
***
Comments
Post a Comment